Senin, 09 Juni 2014

Di bawah semburat senja


Merah muda yang melekat pada mahkota bugenfil kini sedikit basah. Dedaunan dengan klorofil yang belum menguning masih berpegang erat pada ranting-ranting kering. Pasir dan batuan kecil di dekat punggung jalanan kini menghirup udara segar. Begitupun butiran debu yang hampir terseret udara yang berlari, kini ia dalam dekapan air yang mengalir. Tubuh pohon tua seakan runtuh pada dinding tempatku berteduh saat amarah topan hampir memuncak. Menggerakkan kain merah muda yang menutupi helaian rambutku dan membangunkan seluruh bulu kudukku. Genangan air di hadapku pun seakan menjelma menjadi gelombang laut yang tak bisu.


Aku hanya tertunduk memandang butiran pasir berjalan di atas kakiku, melaju bersama air keruh dan udara yang semakin lama terasa membunuh. Melumpuhkan otot-ototku yang tak lama akan membeku. Menusuk tulang-tulang rusukku yang kini sedikit rapuh. Sesekali ku pertemukan dan saling ku gesekkan tubuh mereka, ya mereka! Kedua telapak tanganku yang sedikit membiru, persis warna bibirku yang sedari tadi masih menggigil tak menentu. Meniupkan sisa-sisa udara hangat ke hadapan wajahku yang semakin pucat dan tak berhasrat.

Kilat saling bersahutan. Membuat pandanganku tak mampu menatap sumber butiran air yang belum mendarat. Hanya tempat resapan akar yang kembali ku tatap. Berharap akan ada langit biru dan awan putih yang menyapa. Berharap tak akan ada peperangan antara guntur dan petir di cakrawala. Berharap akan ada lengkung biasan sang Surya. Walau ku tak tahu kapankah masa itu tiba, ku harap itu tak kan lama. Tak lebih lama dari tubuhku yang berdiri di samping butiran pasir yang masih mengalir.

Kembali ku dekap tubuhku yang tak lagi menyimpan suhu panas. Memberanikan diri mengintip keadaan langit yang masih menurunkan pasukan tirta ke bumi. Aku ragu, sedikit takut, dan benar-benar tak ada hasrat untuk membulatkan tekat. Oh alam.. temani aku menatapnya, oh bumi.. jangan biarkan aku merasa takut dan tak sedikit pun berani.
Ku genggam jemariku kuat-kuat. Dengan rasa tekad yang kini lebih melekat, ditemani semburat merah senja, aku pun perlahan melepaskan erat pelukan jemariku pada tubuhku. Menengadahkan wajahku pada langit yang mungkin masih berkelabu. Mengalihkan pandanganku ke atas, walau sedikit ragu aku tetap  bersikeras

Ah.. ini tak seburuk yang kuimajinasikan, tak separah yang ku bayangkan. Terimakasih semesta, kau masih bersamaku. Menemaniku menatap langit di mana guntur dan petir saling beradu senjata. Kini bendera putih telah berkibar di genggaman salah satu dari mereka, memberi isyarat pada batinku yang sedari tadi  bergejolak agar tenang dan hening sejenak. Suara genderang dari degup jantungku tak lagi menyerbu gendang telinga. Sanubariku sedikit lega, paru-paruku kembali menikmati O2.
Langit biru yang sedari tadi ku tak ujung menampakkan diri. Begitupun awan suci yang biasa menampakkan senyum dengan gigi-giginya yang rapi. Namun senja, ya senja! Senja dengan semburat merah yang mewarnai cakrawalalah yang mewakili mereka, ya mereka! Langit biru dan awan suci. Tanpa sadar lengkung di antara dua tebing pipiku terlukis. Perlahan pasukan tirta yang tak henti menyerang bumi meninggalkan jejak bebatuan yang berlari bersama arus air. Membiarkan merah muda bugenfil kembali kering, begitupun dedaunan dengan klorofil yang belum menguning

Jemariku berjalan menyusuri lekukan wajahku. Sambil memeras kain merah muda, aku menggerakkan kaki kakiku untuk sekedar melepas pelukan butiran pasir yang enggan berlalu. Kembali ku gesekkan kedua telapak tangan yang tak lagi menimbulkan rasa hangat. Dengan langkah yang sedikit beku, aku meninggalkan dinding yang hampir tertimpa tubuh pohon tua yang tak berdaya. Hatiku pun tak kuasa ingin segera memeluk nenek yang terbaring lemah tak berdaya di dalam gubuk. Ya, gubuk! Tempatku berbaring dan menikmati manis-pahitnya hidup. Bersama senja yang tersenyum mesra, aku menapaki punggung jalanan basah sambil membawa sisa gorengan yang belum menjadi nafkah.

20 komentar:

  1. ceritanya ini lagi berteduh gitu kan, Fu? -_-

    BalasHapus
  2. bentar mikir dulu ... ini lagi bahas apaan? -_- maap otak lagi hang

    BalasHapus
    Balasan
    1. lagi bahas tukang gorengan yang belum gua bayar bang, udah merem aja sana daripada EROR :D

      Hapus
  3. bentar mikir dulu ... ini lagi bahas apaan? -_- maap otak lagi hang

    BalasHapus
    Balasan
    1. OKE silahkan mikir deh...

      *memanfaatkan kesalahan...

      Hapus
  4. Kalo malem begini baca postingan begini, mata jadi sayu... saya komentarin paragraf terakhirnya aja ya..

    "Jemariku berjalan menyusuri lekukan wajahku." << jangan terperangkap jebakan '-Ku', kalimatnya jadi ga luwes, cukup 'Jemari berjalan menyusuri lekukan wajahku' atau 'Jemariku berjalan menyusuri lekukan wajah'


    "...aku menggerakkan kaki kakiku untuk sekedar melepas pelukan butiran pasir yang enggan berlalu." << sama seperti sebelumnya, jebakan '-ku', ditambah lagi, itu kaki ga perlu diulang, seklai aja, takut jadi ambigu.

    Kembali ku gesekkan kedua telapak tangan yang tak lagi menimbulkan rasa hangat." << nah, ini kalimatnya lebih luwes, cuma kalo mau ngikutin EYD, kata 'ku' ama 'gesekkan' mending digabung.

    #saran aja, ga diikutin juga ga apa-apa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukannya mata udah sayu dari lahir? *eh

      makasih bang kritik n sarannya :) selagi kagak sesat gua ikutin kok .. :D

      Hapus
  5. Setuju sama yang diatas. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. halah... ikut-ikutan ( -_-) tapi mkasih deh... :)

      Hapus
    2. Tapi ceritanya seru kok :)

      Hapus
  6. maaf, terlalu banyak kalimat 'berbunga' yang mengaburkan maksud cerita. baru pada paragraf akhir ketahuan cerita ini tentang apa. \
    Salam :)

    BalasHapus
  7. bahasanya mantap , boleh lah ajarkan saya , kalau ada cerita baru tag di twitter saya ye @along_giat

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih :)
      wah.. oke deh!! kalo ada yang baru saya mention bang :)

      Hapus
  8. Kosa katanya banyak yaaa :D dibanding gue haha. Gimana sih caranya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha.. kamu bisa aja.
      caranya, diputer.. dijilat.. dicelupin.. :D

      Hapus

Udah ngejanya? thanks yak... :)))) tapi gak keren donk kalo gak koment, gak sexy donk kalo gak ngisi, koment apa aja boleh.. yg penting bisa dieja. Tinggalin jejak lu juga yak biar gak disangka Maling.. :)