Selasa, 20 Mei 2014

Lengkung bibir merah

Batang bambu yang begitu rukun saling menyapa satu sama lain. Melahirkan nada alam yang begitu khas di telinga. Beringin dengan jenggotnya yang panjang dan lebat masih bersemedi di samping parkiran. Daun dengan usianya yang renta perlahan menjatuhkan diri ke punggung jalanan berkerikil. Deru mesin matic semakin jelas terdengar, semakin dekat dengan tubuhku yang sedang berteduh di samping belokan gang dekat gerbang pulang. Tak lama ku dengar speaker di atas jendela kaca suatu ruangan menyerukan beberapa intrupsi,


"Pengumuman ditujukan kepada seluruh peserta Ujian, bahwa waktu yang digunakan untuk mengerjakan ujian kurang lima menit lagi. Mohon kelengkapan data peserta dicek kembali, sekali lagi ... "

Pandanganku kembali tertuju pada pasir dan dinding penuh ukiran. Menikmati pantulan senyum Mentari yang sedari pagi masih berseri. Mendengarkan obrolan angin yang berjalan beriringan di hadapku. Memandangi persembunyian keluarga besar pasukan semut tak beratu, keluar masuk lubang rahasia tempat mereka bertapa. Sesaat langkah penjual jajanan terdengar jelas mendekatkan diri pada gedung pendidikan, tiba-tiba menghilang berganti nada gerobak yang disandarkannya pada dinding, ya dinding! Dinding penuh ukiran.

Tak lama pandanganku berlari mengejar waktu yang sedari tadi ku nanti. Berlari mengikuti ajakan lonceng yang menggantung di dekat ruang penuh lembaran juga koran harian.Tiga kali lonceng itu bersua, tiga kali lebih cepat rasanya waktu menjauh dariku. Aku semakin tak sabar melihat gerombolan merah hati putih memenuhi halaman, berlari dengan sepatu mereka yang dihinggapi butiran debu. Bukan hanya tak sabar, hatiku semakin berdebar menemui mata gadis kecil yang masih ku gendong dalam dekapanku.. ya dalam dekapanku delapan tahun lalu.

Waktu dan jarak memang berusaha menjauhkan ku darinya. Tak pernah merestui kehadiranku di tiap hari yang berganti untuk sekedar mengajaknya berlari mengejar matahari. Bermain bersama serangga yang masih malu untuk menampakkan wajahnya dari dalam celah batang pohon tua di samping rumah. Menghitung barisan semut yang membawa makanan untuk sang Ratu, hingga memotongi dedaunan tua di dekat dinding sebagai menu makanan untuk pesta kecil dalam imajinasi.

Namun aku tak marah, aku tak gundah.. bahkan sedikitpun tak merasa resah. Aku tahu, waktu dan ruang memang sengaja membuatku rindu akan lengkung senyumnya di tiap hari yang berganti. Mengajarkanku berharganya nilai pertemuan. Mungkin jika waktu dan ruang membiarkanku bertemu dengannya setiap waktu, belum tentu rasa rindu yang ku tabung ini dapat berbunga, belum tentu aku dapat menarik deposito yang ku simpan dalam Bank Kerinduan. Ah...tau kah kau? Aku selalu rindu akan lengkung bibirmu.

Langkah kaki dengan irama semakin jelas menyelubungi gendang telinga. Debu di depan pintu gerbang yang mengepul membuyarkan lamunanku tentang gadis itu. Menyadarkanku dari segala kerinduan yang menanti upah jerih payah untuk bertemu dan melihat kembali lengkung bibir Intan yang merah. Hatiku semakin berdebar menantikan sosok itu. Rambut sebahu dengan jaket merah dan ransel hijau kecoklatan terlihata berjalan di depan gerombolan anak-anak yang ada di halaman. Ah, aku terlalu bersemangat untuk memanggilnya "Intan". Sekejap ku sadar, ia hanya seorang gadis yang menjelma menjadi sosok gadis yang ku tunggu.

Kembali ku lihat belasan orang tua bertemu darah dagingnya yang masih memsang wajah lelah setelah berperang. Entah apa yang membuat pandanganku berlari menikmati langkah seorang gadis yang masih bergurau dengan kawan sebayanya. Bibir merahnya, ya bibir merahnya semakin membuat bibirku tak sanggup lagi menahan bisu. Wajahnya yang tak pernah terlihat sendu semakin membuat dua kakiku tak kuasa menghampiri tubuhnya yang masih berjalan bersama dedaunan yang berjatuhan.

"Intan....!!"
Dia berbelok mengikuti arah jalan menuju penjual makanan. Aku pun berlari mengejar langkah sepatu hitamnya yang bertali.

"Intan... " aku kembali berseru.

"Mbak Indah.." pita suaranya pun bergetar.

Wajahnya semakin bungah, pipinya kini kemerah-merahan.. Aku tahu betul matanya, ya matanya! Matanya yang berkaca-kaca, entah terkena debu atau tersambar endapan rindu. Dia berlari menemui tubuhku yang terhenti sebab sedikit lesu, entah apa yang membuatnya tiba-tiba merekatkan tubuhnya dengan tubuhku yang terbalut jaket bermotif kotak-kotak. Ah,, aku pun tak mampu diam tanpa membalas kehangatan di bawah terik sang Surya.

Aku pun menyusuri punggung jalan aspal kembali. Kini aku tak sendiri, gadis dengan lengking bibir merah berada di kiriku. Tak sabar aku menikmati kehangatn suasana rumah itu, ya rumah itu! Rumah yang tiga tahun tak ku sapa, ya! Ini masih keinginan waktu dan ruang demi study.ku yang masih harus dituntaskan. Tak apa.. aku tahu, ini memang garis kehidupanku yang telah tertulis di Lauhul Mahfuz. Aku kembali berjalan sambil menikmati obrolan yang telah lama tak ku lakukan, ya! Tak kulakukan bersam gadis kecil ini. Gadis kecil yang ku dekap delapan tahun lalu.

Terima kasih waktu,, kini aku mengerti apa maumu. Dan kau ruang, terimkasih telah mengajariku arti berjuang. Debu di depanku kembali mengantarku berjalan untuk menemui Ibu gadis kecil ini, aku tak kuasa ingin memeluknya. Mengcup pipinya yang terkadang kemerah-merahan. Dan kembali memeluknya. Rinduku pada wanita berparas Elok itu semakin menjadi, ya Wanita itu! Yang pernah merawatku dalam rahimnya.































Hari kedua UN pasukan putih merah
Di bawah pandangan sang Surya yang gerah
Menemani pulang gadis kecil dengan lengkung bibirnya yang merah.

9 komentar:

  1. Perasaan deg-degan ini tengah dirasakan sejumlah keponakan yang mengikuti UN SD. Kasihan lihat mereka stress luar biasa. Mampir yuk Mak www.rumahmemez.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo adeg saya malah bahagia... :D

      oke mak,, sip!

      Hapus
  2. selamat ya, Fu. sekarang sudah waktunya kamu pulang :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Zom.. :D

      aku seneng.. yuhuuuw... *jogetalakadarnya*

      Hapus
  3. tetap jempol,,,, bagi yang happy,,,, ndog asiiiiiiin

    BalasHapus
  4. hahaha untung aku udah lulus, jadi tenang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh... kamu juga pernah SD?
      muehehee...

      Hapus
  5. Nah lo ada yang jadi pertanyaan apa ada yang pipis di celana ya?

    BalasHapus

Udah ngejanya? thanks yak... :)))) tapi gak keren donk kalo gak koment, gak sexy donk kalo gak ngisi, koment apa aja boleh.. yg penting bisa dieja. Tinggalin jejak lu juga yak biar gak disangka Maling.. :)