Minggu, 18 Mei 2014

Intan Permataku

Selamat pagi sayang.. bagaimana tidurmu, nyenyakkah? Masih adakah aku dalam taman bunga tidurmu? Oh iya, apa kabar Mas Nyam? apa dia masih suka menikmati tubuhmu dan memerahkan epidermis yg dia hinggapi? Apa dia masih hobi mengambil sampel darah dari tubuhmu demi kelangsungan hidupnya? Ku harap dia sudah transmigrasi dengan dua sayapnya, sehingga malam-malammu tak lagi terusik. 


Sudah berapa lama aku tak melihatmu tertidur pulas seperti malam kemarin ya? Iya malam Kemarin! Kamu di samping ku dengan selimut bergaris yang memelukmu. Walaupun sebenarnya pelukannya itu masih kalah dengan pelukanku malam itu.  Iya malam itu! Malam terakhir sebelum aku meninggalkanmu. Dan kamu kembali sendiri bersama guling yang setia menemani dan bantal yang tak bosan menopang kepalamu yg sudah lelah. Satu lagi, selimut lembut dengan tubuhnya yang belang.. yang selalu nyaman bila sudah memelukmu.

Ah..  rasanya baru kemarin kamu dan aku duduk berjejer di teras mushola yang berdiri di DKI Jakarta. Menikmati jajanan yang dijual abang-abang dan menghitung banyaknya semut yang keluar dari lubang persembunyiannya. Sepertinya baru saja kamu mengajakku bermain air, iya air! Air yang menerjunkan diri ke bumi. 

Kamu ingatkan saat baju kita sudah basah kuyup? Lalu kita pun berusaha mengeringkannya, namun apa daya! Wanita berparas elok itu terlanjur mengetahui misi kita kala itu. Dia menghampiri kita dan satu jeweran pun menggetarkan pita suaraku, dan kamu hanya tertawa kecil di gendongan wanita itu. Kamu tahu? kala itu aku iri melihatmu.. uh..! Tapi wajah mungilmu itu meleburkan rasa iri yang semakin menjadi.

Hari berlalu bersama butiran debu. Waktu masih berjalan bersama udara tak berkawan. Aku pun dikenalkan dengan sesuatu yang baru.  Yang bagiku begitu asing bila harus mengenakannya sesuai keterangan yang diketik di selembar kertas buram itu. Kamu tahu? ku kira itu tak akan memudarkan kebersamaan kita. Tapi aku salah.. Semenjak aku mengenal gedung di mana banyak sekali anak manusia yg sebaya denganku, aku tak lagi memiliki waktu untuk kita. Entah aku yang (sok) sibuk dan capek, atau memang aku lebih nyaman bersama mereka kala itu. Entah, aku tak tahu.. 

Tak lama kamu pun menemukan duniamu, di mana kamu juga memakai benda asing yang orang-orang menyebutnya "Seragam". Tepatnya setelah kita kembali ke KEDIRI, di mana Gunung Kelud berdiri gagah 20km dari rumah kita. Kamu pun semakin tak ada waktu untuk kita, begitupun aku. Dan itu berlangsung sangat lama.. Hingga akhirnya seragam warna merah-putihku berganti dengan putih-biru. Dan bahkan tanpa ku sadari beberapa hari lagi aku harus meninggalkan putih abu-abuku. Lalu kamu akan menyambut putih-biru barumu. 

Begitulah waktu, dia selalu menjadi misteri. Terkadang membuatku ingin melumpuhkan langkahnya, dan terkadang pula aku ingin meninggalkan lamban langkahnya. Tak kuduga sang Waktu memberiku kabar secepat kilat. Kabar bahwa besok kamu akan pergi ke medan tempur, berperang mengalahkan pasukan-pasukan penjaga pintu gerbang masa depan dengan senjata ampuh mereka yang dibalut rapi dengan butiran soal. Ya! berperang dengan merah-putih yang melekat pada tubuhmu, persis diriku pada enam tahun yang lalu. 

Sayangku.. walau pun di setiap malam aku tak dapat menemanimu berbincang mesra bersama tumpukan buku yang ku lihat malam kemarin, ku harap kau memaklumi itu. Kamu tahu kan, semenjak putih abu-abu ini melekat di tubuhku, kita tak lagi satu atap, ya satu atap! Satu atap kamar lengkap dengan selimut lembut dengan belang di tubuhnya. 

Intanku sayang.. ku harap perjuanganmu hampir enam tahun ini tak sia-sia. Semoga Allah selalu mencampuri peperanganmu. Menuntunmu pada cahaya kemenangan menuju gerbang kesuksesan. Dan suatu hari kau pun dengan bangga membawa lembaran dengan angka yang kau harapkan menempel di atasnya. Tak tertinggal dengan dua kata ini, ya ini! Intan Permatasari. Nama itu akan tertera di bagian atas lembaran yang notabene hasil jerih payahmu selama enam tahun sekaligus hasil bulir keringatmu yang menganak sungai saat kau berperang.

Kau tahu sayang? Aku juga semakin tak sabar manantikan hari bahagia itu, ya hari itu! Di mana Wanita berparas elok itu memeluk tubuh kita dengan rasa bangga yang tak ternilai harganya. Mengecupkan bibir pada keningmu, juga keningku. Mungkin suasana haru tanpa pilu tak kan bosan mencampuri hari itu, ya hari itu! Hari yang pasti akan menghampiri kita. Oh iya, masih ku ingat kata-katamu yang membuatku semakin tak sabar melihatmu memakai kerudung untuk yang pertama dan selamanya.

Ah, Intan.. aku bangga memilikimu. Tetaplah menjadi Intan Permataku yang tak lemah dihadang rasa pilu. Tetap ceria di hadapan kawan saat tubuhmu letih, tetap tersenyum di depan lawan saat hatimu perih. Intan sayang.. entah untuk berapa kali aku memanggilmu "sayang", bukan sebab ku terbiasa. Namun inilah rasa hangat yang mengalir di seluruh nadiku, dan yang mengalir di seluruh venamu.












































Salam rindu dari seseorang yang mengecupmu di saat kau rapuh. Memelukmu di saat kau jatuh. Yang pernah tinggal di rahim ibumu.

16 komentar:

  1. bacanya sampai berkaca-kaca mak, saking terharun biru ;) slm kenal ya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. *ngasihtisu*

      butuh pelukan? sini,, sini,,, :D
      salam kenal juga Mak Chris.. :)

      Hapus
  2. wedew dalam and bikin gak ngantuk melek lagi and kutan sipa tempur thx furi :) enak y pnya adek

    BalasHapus
    Balasan
    1. mueheehe.. masak sih? kayak kopi donk..

      iya, enak. tapi kadang bikin emosi terus perang bantal deh. .

      Hapus
  3. Dalem banget... tolong, aku tenggelam~

    BalasHapus
    Balasan
    1. makannya hati-hati..

      *nglemparban*

      Hapus
  4. Pakai perasaan banget pasti Nulisnya? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. pakek jari sih sebenernya, soalnya diketik :D

      Hapus
  5. Aishhh... Mataku sampai berkaca - kaca nih... Semoga aja gak pecah ya kacanya.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hati-hati.. jangan berkedip pokoknya..
      ntar kalo pecah aku kumpulin deh, terus dilem. oke ;)

      Hapus
  6. Balasan
    1. *lempar tisu toilet*

      butuh bahu juga gak? ini kosong..
      *modus

      Hapus
  7. Ah tulisannya keren. Suka bagian terakhirnya :)

    Salam kenal ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah makasih.. :)

      Yosh! salam kenal juga..

      Hapus

Udah ngejanya? thanks yak... :)))) tapi gak keren donk kalo gak koment, gak sexy donk kalo gak ngisi, koment apa aja boleh.. yg penting bisa dieja. Tinggalin jejak lu juga yak biar gak disangka Maling.. :)